Tim Yang Kompak Dan Militan Yang Akan Sukses di Piala Dunia

7upcashTeam yang kompak serta militan ialah jawaban untuk dapat mencapai sukses dalam suatu
kompetisi antar-tim nasional, seperti putaran final Piala Dunia 2018, yang barusan selesai
di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, Minggu, 15 Juli. Tim Yang Kompak Dan Militan Yang Akan Sukses di Piala Dunia

Tim Yang Kompak Dan Militan Yang Akan Sukses di Piala Dunia

Adapun mental kuat dalam kebersamaan melakukan perjuangan itu sekarang telah berada di diri
pemain semenjak berumur muda. Ini bagian selanjutnya dari kejadian sukses Prancis
menaklukkan Kroasia 4-2 dalam laga final di stadion nasional Rusia itu.

“Ini ialah suatu team muda yang ada di pun cak dunia. Beberapa di antara mereka ialah juara
pada umur 19 tahun . Tetapi sumber kebanggaan paling besar saya ialah mereka mempunyai
pikiran yang benar, ” kata pelatih Prancis, Didier Deschamps, di Stadion Luzhniki dini hari
yang tadi, Senin, 16 Juli 2018, sesudah laga final.

Kolektivitas, militansi, serta ketegaran singkirkan figur beberapa bintang yang merangkap
selebritas sepak bola, seperti Cristiano Ronaldo, Neymar, serta Lionel Messi.

Dalam suatu pertandingan liga yang rata-rata memakan waktu hampir setahun , beberapa
bintang itu masih tetap pun ya waktu cukuplah untuk berleha-leha memulihkan tenaga serta
mood bermain. Tetapi dalam suatu kompetisi periode pendek, seperti putaran final Piala
Dunia 2018, Ronaldo cs seperti terkaget-kaget mengatur irama.

Piala Dunia 2018 merubah citra yang tercipta sampai kini serta yang tumbuh dari
pertandingan liga yang disela dengan partai babak -babak kwalifikasi, jika mereka yang akan
sukses ialah team himpunan beberapa bintang, mereka yang terlena serta dilenakan sanjungan
media.

Profil bintang dengan bakat istimewa, seperti Messi, Ronaldo, serta Neymar, tersisih. Di
lain sisi, mungkinkah karena profil beberapa “solois” ini belumlah sekuat beberapa
pendahulunya, seperti Diego Maradona, Franz Beckenbauer, Pele, atau Johan Cruyff? Jangan-
jangan Neymar cs sampai kini cuma bintang yang medioker, yang lalu menjulang seperti
gelembung sabun karena media?

Piala Dunia 2018 ini punya beberapa pemain muda yang bertenaga, seperti Prancis serta
Inggris, atau pemain senior yang tertempa perjuangan bertahun -tahun , seperti Kroasia
serta Belgia.

Lihatlah bagaimanakah Prancis yang juara, Kroasia finalis untuk pertama-tama, posisi ke-3
Belgia, serta Inggris di posisi ke empat itu berubah menjadi representasi dari kemampuan
kolektivitas, daya baru, soliditas, serta beberapa tenaga muda.

Ialah Kroasia yang menyaratkan pertama-tama jika pergelaran di Rusia 2018 ini bukanlah
punya tim-tim yang yakin demikian saja pada bintang-bintangnya. Hal tersebut mereka
perlihatkan dengan menggulung Messi cs dari Argentina pada babak group.

Kroasia bisa sedih dengan jalannya partai final Piala Dunia 2018 yang memberikan drama
komplit, yakni pro-kontra pemakaian video assistant referee (VAR), perbincangan apakah
Antoine Griezmann lakukan diving ataukah tidak, serta tragedi gol bunuh diri Mario
Mandzukic.

Tetapi Kroasia masih tetap dapat masih pulang dengan kepala tegak. Beberapa penggemarnya
memiliki hak memuji mereka menjadi juara tanpa ada mahkota. Lihatlah baik-baik figur sang
kapten, Luka Modric, yang dipilih menjadi Pemain Terunggul Piala Dunia 2108.

Muka Modric yang tirus memperingatkan pada wajah kapten Belanda pada final Piala Dunia
1974, Johan Cruyff. Kedua-duanya juga mempunyai keserupaan nasib dalam Piala Dunia pada
masa semasing.

“Kami sedih serta bangga ketika yang sama, ” kata pelatih Kroasia, Zlatko Dalic, seperti
yang diambil Reuters. “Kami telah main bagus, namun hukuman penalti seperti angin yang
menyingkirkan serta kemudian kondisi berubah menjadi lebih susah. Kami sudah melindungi
martabat kami waktu menang serta begitupun waktu kalah. ”