Timnas Amerika Serikat datang ke Piala Dunia 2022 dengan rata-rata skuad termuda kedua. Walaupun begitu, penyerang sayap Amerika Serikat, Christian Pulisic yakin itu jadi modal untuk memenangkan turnamen.

Edisi Piala Dunia tahun ini di Qatar akan menjadi partisipasi ke-11 Amerika Serikat. Walaupun tak punya prestasi mewah di ajang sepak bola dunia empat tahunan ini, Pulisic ingin membuktikan sesuatu.

Amerika Serikat tidak hanya tiba ke Qatar dengan segudang pemain muda, tetapi kebanyakan dari mereka bermain di kompetisi tertinggi di Eropa. Pulisic sendiri adalah pemain Chelsea.

Ada juga Weston McKennie dari Juventus. Giovanni Reyna di Borussia Dortmund. dan kiper Matt Turner dari Arsenal.

Para pemain tersebut dianggap Pulisic jadi amunisi berbahaya di dalam tim. Kekuatan ini berbeda dengan Amerika Serikat beberapa tahun sebelumnya.

“Rasanya menyenangkan punya rekan-rekan yang bermain di level tertinggi Eropa. Buktinya kami bisa melaju sampai ke sini,” terang dia di laman resmi FIFA.

“Bandingkan saja dengan beberapa tahun yang lalu yang tanpa pemain-pemain di klub top, kami tetap kuat. Sekarang tim ini akan jadi lebih kuat.”

Amerika Serikat tercatat memiliki rata-rata skuad di angka 25,2 tahun. Jumlah itu hanya kalah dari Ghana sebagai tim termuda dengan 24,7 tahun. Berbekal darah muda, Pulisic yakin tim akan punya modal bagus.

“Kami semua dalam keadaan positif. Kami diisi oleh pemain-pemain yang sangat ingin menjadi lebih baik,” tutur pemain berusia 24 tahun itu.

“Kebanyakan dari kami juga tumbuh bersama dan sudah pernah bermain sejak tim nasional kelompok umur. Kami jadi saling kenal dan ini adalah keseimbangan yang bagus.”

Pulisic tidak malu-malu menyebutkan target Amerika Serikat di Piala Dunia 2022 menjadi juara. Dengan modal-modal yang disebutkan, ia yakin perwakilan CONCACAF ini bisa berbicara banyak.

“Tujuan tim ini adalah melaju sejauh mungkin dan menghadapi tim-tim terbaik di dunia. kami akan berjuang demi memenangkan turnamen,” ujarnya percaya diri.

“Tentu akan sangat sulit, tetapi kami punya kepercayaan diri untuk berjuang. Jika kami bisa lolos dari fase grup, maka semua dapat terjadi di babak gugur.”