Beberapa Fakta Mengejutkan di Turnamen Kasta Kedua di Eropa

7upcash – Pada dua minggu paling akhir, pertandingan sepak bola di Eropa semakin banyak dihiasi oleh laga dari kompetisi kasta kedua. Di Inggris ada Piala Liga Inggris atau Piala Carabao serta Piala FA. Di Prancis, ada Piala Liga Prancis serta Piala Prancis. Beberapa Fakta Mengejutkan di Turnamen Kasta Kedua di Eropa

Beberapa Fakta Mengejutkan di Turnamen Kasta Kedua di Eropa

Sesaat di negara lain, ada Piala Liga Spanyol serta Coppa Italia. Spesial untuk Coppa Italia akan berjalan di akhir minggu ini.

Jumlahnya laga kompetisi kasta kedua membuat banyak juga surprise berlangsung. Kami sudah meringkas 5 surprise di kompetisi kasta kedua di Eropa. Baca daftarnya berikut ini:

Kemenangan Telak Manchester City atas Burton Albion

Surprise pertama berlangsung di Stadion Etihad. The Cityzens berlaga menantang team kasta ketiga Inggris, Burton Albion. Dalam laga bertopik semi final Piala Carabao, Manchester City menang dengan skor telak, 9-0.

Gabriel Jesus jadi bintang lapangan dengan cetak empat gol. Sesaat lima gol lainnya diceploskan oleh lima pemain berlainan. Sebetulnya, Pep Guardiola lakukan perputaran pemain dari penjaga gawang ke pemain depan. Akan tetapi, Manchester City tetaplah Manchester City yang skuat kedua mereka terlalu kuat untuk klub kasta ketiga.

Kekalahan Liverpool dari Wolverhampton Wanderers

Mungkin buat beberapa orang, kekalahan Liverpool ini bukan perihal yang mengagetkan. Liverpool mainkan pemain lapis kedua serta menantang klub dari kasta paling tinggi, Wolverhampton Wanderers. Akan tetapi, buat penulis, kekalahan ini tetaplah mengagetkan.

Sekurang-kurangnya ada banyak alasan kenapa kekalahan ini saya kira mengagetkan. Liverpool ialah puncak klassemen di Liga Inggris dengan baru sekali menerima kekalahan. Yang membuat mengagetkan kedua ialah nyatanya mental pemain The Reds seburuk itu.

Liverpool kalah dengan skor 2-1 serta membuat mereka tersisih dari Piala Liga Inggris atau Piala Carabao. Buat pengagum Liverpool, kekalahan ini ialah jalan terbaik untuk mencapai trofi Liga Inggris. Yang mereka lupakan ialah tidak tidak ada yang jamin konsentrasi di Liga Inggris membuat mereka jadi juara.

Takluknya Bekas Juara Inggris dari Team Kasta Ke empat

Lirik salah satunya lagu asal Indonesia itu menyengaja saya ganti. Itu sekurang-kurangnya deskripsi Leicester City sekarang ini. Mereka sudah sempat jadi primadona saat menjdi juara Liga Inggris. Bermodalkan beberapa pemain kaleng-kaleng, mereka mengungguli Arsenal serta Tottenham Hotspur. Yang mencengangkan lagi, mereka unggul dengan beda 10 poin atas Arsenal.

Akan tetapi, cerita manis The Foxes sudah selesai. Aroma kebahagiaan yang mereka rasakan sudah pupus ditelan jaman. Pada Piala FA set 32 besar, mereka kalah di tangan klub kasta ke empat Inggris, Newport County. Pikirkan, mereka kalah dari klub yang namanya tidak semakin bagus dari salah satunya perusahaan yang lakukan eksploitasi di timur Indonesia.

Marseille Bertekuk Lutut di Kaki di Club Gurem Prancis

Kelucuan yang dikerjakan oleh Leicester City nyatanya bermula dari Prancis. Yaitu waktu Marseille kalah dari klub gurem Prancis, ASF Andrézieux di Piala Prancis. Dalam kompetisi yang diselenggarakan pertama-tama pada 1917 itu, anak asuh Rudi Garcia kalah dengan skor 2-0.

Kekalahan ini membuat langkah Dimitri Payet serta kolega mesti berhenti di set 64 besar. Bagaimana ingin menyenggol Paris Saint-Germain serta jadi juara Ligue 1 jika lawan team kasta ke empat, mereka kesusahan serta kalah. Ubah jadi grup bermain saja telah!

Pada akhirnya Paris Saint-Germain Kalah di Prancis

Ada satu perihal langka lagi dalam dunia sekarang ini selain orang yang tidak suka pada Blackpink – sesudah mereka muncul pada sebuah program di Indonesia, yaitu Paris Saint-Germain kalah di Prancis. PSG jadi salah satunya klub di Eropa yang belumlah terkalahkan di lima liga top Eropa bersama dengan Juventus.

Apesnya, Les Parisien kalah dari EA Guingamp. PSG kalah dari salah satunya Novelis populer di Indonesia. Lebih menyakitkan lagi, mereka kalah sesudah unggul terlebih dulu melalui gol Neymar. Sebelum pada akhirnya dua eksekusi penalti Guingamp membuat mereka kalah.

Ya, kalian tidak salah baca. Dua gol Guingamp lahir dari sepakan penalti. Bahkan juga, dapat jadi tiga gol, andaikata tendangan penalti Marcus Thuram pada menit ke-61 masuk.